KONDISI PADANG LAMUN DI PESISIR BALI UTARA BERDASARKAN JUMLAH SPESIES, JUMLAH ALGA, DAN PERSENTASE TUTUPAN

Nuryani Wigdati, Gede Iwan Setiabudi, E. Elvan Ampou, I Nyoman Surana
  JFMR, pp. 452-458  

Abstract


Identifikasi kondisi padang lamun di perairan Bali Utara telah dilakukan pada Agustus dan September 2020 di Sumberkima, Lovina, Panimbangan, dan Pacung. Tujuan kajian ini untuk mengidentifikasi kondisi padang lamun di perairan Bali Utara berdasarkan jumlah jenis lamun, persentase tutupan lamun, dan jumlah jenis alga. Metode transek garis tegak lurus garis pantai serta foto atau video diaplikasikan untuk pengambilan ketiga jenis data tersebut. Analisis kondisi lamun dilakukan dengan metode penilaian dan pembobotan. Di keempat lokasi ditemukan sebanyak enam jenis lamun yang berasal dari dua famili yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceaceae. Famili Hydrocharitaceae diwakili oleh Enhalus acoroides (Ea), Thalassia hemprichii (Th), Halophila ovalis (Ho), dan Cymodocea rotundata (Cr), sementara famili Cymodoceaceae terdiri dari Syringodium isoetifolium (Si) dan Halodule uninervis (Hu). Jenis paling beragam ditemukan di Lovina dengan rata-rata persentase tutupan 60% dan paling sedikit di Panimbangan dengan rata-rata tutupan 52%. Hasil pembobotan pada komponen jenis lamun, jenis alga, dan persentase tutupan menunjukan bahwa kondisi lamun di Lovina dalam kondisi paling baik dengan jumlah skor 13. Kondisi lamun di Sumberkima dalam kondisi sedang (skor 11), sedangkan di Panimbangan dan Pacung dalam kondisi buruk dengan skor 7. Kondisi kualitas air pada saat dilakukan pengamatan di keempat lokasi penelitian dalam kondisi yang baik untuk mendukung kehidupan lamun. Penelitian lanjutan dengan menambahkan dan mempertimbangkan parameter lingkungan lainnya sebagai komponen untuk menilai kondisi dan status lamun di Bali Utara.

 

Identification of seagrass beds condition in North Bali waters (Sumberkima, Lovina, Panimbangan, and Pacung) was carried out in August and September 2020. This study aims to identify the condition of seagrass beds in North Bali waters based on the number of seagrass species, the percentage of seagrass cover, and the number of algae species. We performed line transects as well as photos or videos to collect data on seagrass and algae. Seagrass ecosystem condition was analyzed by using the scoring and weighting method. Six species originating from two familiesHydrocharitaceae and Cymodoceaceae, have been identified.  Hydrocharitaceae family represented by Enhalus acoroides (Ea), Thalassia hemprichii (Th), Halophila ovalis (Ho), and Cymodocea rotundata (Cr), while the Cymodoceaceae consists of Syringodium isoetifolium (Si) and Halodule uninervis (Hu). The most diverse species were found in Lovina with an average percentage cover of 60% and the least is in Panimbangan (52%). The scoring and weighting results showed that the seagrass conditions in Lovina were in the best condition with a total score of 13. The condition of the seagrass in Sumberkima was moderate (score 11), while in Panimbangan and Pacung were in bad condition with a score of 7. The condition of water quality at the time of observation was in good condition to support seagrass life at all research sites. Further research by adding and considering other environmental parameters as a component in assessing the condition and status of seagrass in North Bali.


Keywords


seagrass species, cover percentage, seagrass ecosystem condition, North Bali waters

Full Text:

PDF

References


N. D. M. Sjafrie et al., Status Padang Lamun Indonesia Ver.02, vol. 53, no. 9. 2018.

C. M. Duarte, J. Borum, F. T. Short, and D. I. Walker, “Seagrass ecosystems: Their global status and prospects,” Aquat. Ecosyst. Trends Glob. Prospect., no. January, pp. 281–294, 2008, doi: 10.1017/CBO9780511751790.025.

A. Grech et al., “A comparison of threats, vulnerabilities and management approaches in global seagrass bioregions,” Environ. Res. Lett., vol. 7, no. 2, 2012, doi: 10.1088/1748-9326/7/2/024006.

L. M. Nordlund et al., “Intertidal Zone Management in the Western Indian Ocean: Assessing Current Status and Future Possibilities Using Expert Opinions,” Ambio, vol. 43, no. 8, pp. 1006–1019, 2014, doi: 10.1007/s13280-013-0465-8.

M. Waycott et al., “Accelerating loss of seagrasses across the globe threatens coastal ecosystems,” Proc. Natl. Acad. Sci. U. S. A., vol. 106, no. 30, pp. 12377–12381, 2009, doi: 10.1073/pnas.0905620106.

E. P. Green and F. T. Short, World atlas of seagrasses, vol. 41, no. 06. 2004.

T. E. Kuriandewa, W. Kiswara, T. M. Hutomo, and S. Soemodihardjo, “The Seagrassess of Indonesia,” in Choice Reviews Online, vol. 41, no. 06, E. P. Green and F. T. Short, Eds. Barkeley, USA: University of California Press, 2004, pp. 41-3160-41–3160.

Menteri Negara Lingkungan Hidup, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 200 Tahun 2004 Tentang Kriteria Baku Kerusakan dan Pedoman Penentuan Status Padang Lamun. Indonesia, 2004.

L. C. Cullen-Unsworth and R. K. F. Unsworth, “Strategies to enhance the resilience of the world’s seagrass meadows,” J. Appl. Ecol., vol. 53, no. 4, pp. 967–972, 2016, doi: 10.1111/1365-2664.12637.

I. Arthana, “Jenis Dan Kerapatan Padang Lamun Di Pantai Sanur Bali,” Bumi Lestari J. Environ., vol. 5, no. 2, 2012.

M. W. T. Pamungkas, “Studi Perubahan Habitat Padang Lamun Berdasarkan Kualitas Perairan Menggunakan Citra LANDSAT-8 (Studi Kasus : Pantai Sanur, Bali),” Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2016.

D. S. Yusup and H. Asy’ari, “Komunitas Tumbuhan Lamun di Kawasan Perairan Sekitar Denpasar,” in Bioaktivitas Ekstrak dan Fraksi Ulva reticulata Forsskal Asal Gili Kondo Lombok Timur Terhadap Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, 2010, pp. 26–29.

I. K. V. S. Rahadiarta, I. D. N. N. Putra, and Y. Suteja, “Simpanan Karbon Pada Padang Lamun di Kawasan Pantai Mengiat, Nusa Dua Bali,” J. Mar. Aquat. Sci., vol. 5, no. 1, p. 1, 2018, doi: 10.24843/jmas.2019.v05.i01.p01.

H. K. Purnomo, “Keanekaragaman spesies lamun pada beberapa ekosistem padang lamun di Kawasan Taman Nasional Bali Barat,” vol. 3, no. April, pp. 236–240, 2017, doi: 10.13057/psnmbi/m030213.

C. S. U. Dewi, D. Yona, and F. Iranawati, “Analisis Kesehatan Ekosistem Lamun dI Pantai Menjangan, Buleleng, Bali,” Pros. Semin. Nas. Perikan. dan Kelaut. VIII, vol. VIII, no. 1, pp. 1–5, 2019, [Online]. Available: www.semnas.fpik.ub.ac.id.

W. Hidayat, W. S. Warpala, and S. R. Dewi, “Komposisi Jenis Lamun (Seagrass) dan Karakteristik Biofisik Perairan di Kawasan Pelabuhan Desa Celukanbawang Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Bali,” J. Pendidik. Biol. undiksha, vol. 5, no. 3, 2018, [Online]. Available: https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPB/index.

R. K. F. Unsworth et al., “Global challenges for seagrass conservation,” Ambio, vol. 48, no. 8, pp. 801–815, 2019, doi: 10.1007/s13280-018-1115-y.

Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng, “Status Lingkungan Hidup Kabupaten BulelengTahun 2010,” Buleleng, Bali, Indonesia, 2010.

S. English, C. Wilkinson, and V. Baker, “Survey manual for tropical marine resources. Second edition,” Surv. Man. Trop. Mar. Resour. Second Ed., 1998.

L. McKenzie and Seagrass Watch, “Guidelines for the rapid assessment of seagrass habitats in the western Pacific,” Queensl. Dep. Prim. Ind., no. July, p. 78, 2003, [Online]. Available: http://www.seagrasswatch.org/Methods/Manuals/SeagrassWatch_Rapid_Assessment_Manual.pdf.

I. H. Supriyadi, “Pemetaan Padang Lamun di Perairan Teluk Toli-Toli dan Pulau Sekitarnya, Sulawesi Tengah,” Oseanologi dan Limnol. di Indones., vol. 41, no. 38, pp. 1–21, 2010.

Susetiono, Fauna padang lamun Tanjung Merah, Selat Lembeh. Jakarta: Program COREMAP II, Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI, 2004.

F. T. Short, R. G. Coles, and C. Pergent-Martini, Global seagrass distribution, 1st ed. Amsterdam: Elsevier Science B.V., 2001.

I. M. Sara Wijana, N. M. Ernawati, and M. Ayu Pratiwi, “Keanekaragaman Lamun Dan Makrozoobentos Sebagai Indikator Kondisi Perairan Pantai Sindhu, Sanur, Bali,” ECOTROPHIC J. Ilmu Lingkung. (Journal Environ. Sci., vol. 13, no. 2, p. 238, 2019, doi: 10.24843/ejes.2019.v13.i02.p11.

A. Rustam et al., “Ekosistem Lamun Sebagai Bioindikator Lingkungan Di P. Lembeh, Bitung, Sulawesi Utara,” Indones. J. Biol., vol. 11, no. 2, 2015.

K. Menteri and N. Lingkungan, “Baku mutu air laut untuk biota laut,” Peratur. Lingkung., pp. 0–3, 2004.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)